Kiamat Sudah Dekat
Satu pertanyaan yang pernah terlintas dalam benakku, siapa sebenarnya di balik kehancuran bumi nantinya? Seorang laki-laki berusia 23 tahun, namanya Imran, yang masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir sebuah universitas swasta secara lantang menyatakan hal demikian.
Saya lantas terdiam untuk sesaat, dan mencoba memikirkan jawaban dari pertanyaannya. Maka hari itupun saya pun seperti berada dalam satu gelombang dahsyat, di mana saya mencoba merunut dari sekian banyak keadaan di balik benih-benih kehancuran yang pernah saya baca di beberapa buku.
Dosa manusia itu sendiri. Begitu jawabku. Lalu ia kembali terdiam di tempatnya. Kulanjutkan ucapanku; seperti yang pernah saya dengar pula lewat mimbar-mimbar jumatan, bahwasanya dosa-dosa manusialah yang nantinya akan menghancurkan bumi ini. Entah benar atau salah, tapi saya mendengarnya dari bibir seorang ustad yang cukup punya nama di kota ini.
Jika berbicara dalil, mungkin ini adalah dalil shahih. Imran yang masih duduk di hadapanku mengangguk dengan bola mata angah, berkecumik bibirnya seakan membaca mantra-mantra dimana hanya ia dan Tuhan yang tahu. Saya tersenyum sekali lagi kepadanya, tapi entah kenapa dia tidak membalas senyumanku.
Suasana cukup dingin meski rerintik hujan berjatuhan saat itu. Sesaat ia mengingatkan tsunami yang mendera Aceh 3 tahun silam. Apakah bencana itu juga adalah imbas dari perbuatan dosa manusia, khusunya di Aceh? Kuiyakan, dengan alasan bahwa ustad yang kudengar juga mengatakan demikian; segala macam bencana alam yang terjadi di muka bumi ini karena ulah manusia itu sendiri, termasuk tsunami di Aceh dan Pangandaran, longsor dan banjir bandang di Sinjai, serta kebakaran yang hampir tiap hari terdengar di telinga kita.
Bukan cuma itu, luapan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, tragedi hilangnya pesawat Adam Air yang sampai detik ini belum juga menimbulkan tanda-tanda kejelasan. KM Levina yang mengalami nasib nahas di perairan Jakarta tahun 2007 lalu. Dan saat ini, di tengah bobroknya moral anak bangsa, baru di awal tahun 2008, kita sudah dikagetkan oleh sederet peristiwa yang seperti tidak memberi kita waktu untuk menghirup nafas lega; banjir di sejumlah kota di Indonesia, termasuk di Makassar.
Tindakan-tindakan anarkis oleh generasi-generasi muda bangsa, krisis moral yang berindikasi pada merajalelanya tingkat pengguna dan pengedar narkoba, free sex, dan sebagainya. Itu semua adalah benih-benih dosa yang secara tidak sadar mengundang murka Tuhan untuk mengirim sederet bencana buat negeri ini.
Contohnya, global warming (pemanasan global) yang menurut isu bahwa sebagian besar pulau-pulau yang ada di Indonesia akan tenggelam, termasuk Makassar akibat melubernya pegunungan es di daerah kutub. Pembalakan liar yang efeknya hutan semakin gundul dan erosi semakin leluasa menggunduli segalanya.
Di lautan orang-orang tidak bertanggung jawab kini telah merusak ekosistem biota laut yang akhirnya merusak terumbu karang, dan mematikan jenis-jenis ikan yang ada. Ironis!
Banyak manusia yang mengaku-ngaku sebagai Nabi, dan banyak juga para penganut ajaran sesat yang di ciptakan para Nabi palsu itu. Ya Tuhan, apa yang berada di dalam pikiran dan benak mereka ? Semoga mereka segera bertobat dan mohon ampun kepadaMu, Ya Tuhan…..
Kujelaskan sedemikan rupa pada Imran seperti yang sempat terekam di benakku. Dan memang benar adanya, sebagai manusia kita sudah terkadang melupakan segala yang ada dalam diri kita masing-masing. Dosa, yah, satu kata yang dianut oleh hampir semua orang yang ada di muka bumi. Bagaimana tidak, rasanya perbuatan dosa sudah sama halnya dengan makanan hari-hari yang dikomsumsi.
Setiap hari dosa mencuat di permukaan, entah disengaja atau tidak. Dosa kecil atau dosa besar, sama saja. Namanya dosa, pasti akan menimbulkan sebuah ganjaran atas sikap tersebut.
Kita juga kerap diperhadapkan pada dosa petinggi bangsa yang dengan gamblangnya mengoyak hati terdalam masyarakat bawah, tentu saja lewat praktik-praktik sesat yang dilancarkan atas nama rakyat. Rakyat diperjual-belikan serupa sembako yang kini sudah meroket dan sepertinya sebentar lagi menembus ozon, hingga yang mampu mencapainya hanyalah orang-orang strata tinggi semata, sementara mereka yang berada di bawah, tetaplah seperti binatang kelaparan yang terus merintih di bawah injakan-injakan kaki sang penguasa.
Inilah dosa terbesar yang menjadikan negeri ini tak ubahnya gudang derita, setiap kali luka mulai kering, selanjutnya bertubi-tubi bencana lain mendera tiada henti.
Saat ini hidup bagaikan tak berarti lagi, sementara kita asyik memperbincangkan nasib bangsa kedepannya, namun lebih cekatan lagi bencana menyumbat suara hati ini. Dan yang lebih tragis lagi sekian banyak anak-anak tak berdosa yang harus rela menjadi tumbal keterpurukan akibat dosa-dosa kita yang telah melangit, dan kemudian dosa-dosa itu tumpah-ruah serupa air hujan yang deras mengguyur dalam bentuk bencana hebat.
Inilah kita, rasanya wacana-wacana perenungan hampir tiap hari menggaung lewat media-media, namun nyatanya kesemuanya seperti angin lalu saja yang tidak membuat hati ini terketuk. Di mimbar jumat, para ustad seakan sudah kehabisan bahasa untuk menundukkan keegoan hati ummat manusia, buku-buku renungan juga seperti kehilangan huruf lantaran manusia semakin congkak dengan dosa masing-masing.
Lihatlah bumi ini….sekali lagi tataplah alam ini bukan dengan oblakan dua bola mata, melainkan mata hati terdalam, tidakkah kita melihat sejuta rintihan dedaunan yang berharap perhatian serius dari kita semua?! Tengoklah laut yang membiru, masihkah dasarnya utuh dan terumbu karangnya mekar seperti sediakala?
Negeri ini janganlah serupa tong sampah yang tiap hari terisi sampah dan dosa kemaksiatan. Tidakkah kita merasa perih, menagis pilu ketika kita melihat keluarga-keluarga kita terdera bencana hebat? Sakitkah hati ini saat kita menyaksikan daratan terbasuh darah yang mengucur dari tubuh orang-orang terdekat kita? Kita…kita berkoar lantang – Yaaa Tuhan !!!
Lantas masihkan kita lupa akan Tuhan, lupa akan dosa yang sudah lama meracuni jiwa, yang akhirnya membelenggu serupa tambang menjerat leher. Dosa manusia, dosa kita, sudahlah cukup sampai detik ini kawan! Ingat, Kiamat Sudah Dekat !