Gabungan nama's posts with tag: keluarga

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag keluarga
Blog EntryUNGAKAPAN RASA SYUKUR DAN HARAPAN SANG SUAMIMar 30, '08 4:04 AM
for everyone

Segala puji pada MU ya ROBI

Atas Rahmat hari ini

Telah cukup sudah cinta suci sejati dari hati

Janji tlah terucap

Akad tlah tercipta

Tuk bersama jalani hari

Ya ALLAH ROBI......

Bimbinglah kami dalam menempuh hidup ini

Marilah Dinda......kita melangkah

Bersama saling membina

Do'akan aku di setiap langkahmu

Do'amu penyejuk qalbu

Oh,Dinda jadilah bunga

Di indahnya di taman cinta

Ya ALLAH.....bimbinglah kami

Di dalam perjalanan ini....

Senantiasa menjadi keluarga yang sakinnah,mawaddah,warrahmah.....

amiiiin ya ROB....

                                                                         Memory...di sepanjang masa

                                                                               Tuk belahan jiwa

 

 


Para da'i, para khotib, para aktifis Islam telah berkali-kali menyampaikan bahwa anak adalah generasi Islam masa depan yang harus kita jaga dan kita tanamkan Aqidah dan Akhlaq Islam semenjak dini. Namun disatu sisi (bahkan juga terdapat dari kalangan penyeru tadi), sering secara sadar atau tidak sadar, telah memunculkan upaya untuk merusak generasi Islam tersebut. Mulai dari acara-acara lomba nyanyi anak "Islam", lomba fashion show anak "Islam", dan masih banyak acara-acara lainnya yang selalu menggunakan label Anak "Islam".

Begitu mudahnya kita menemui anak-anak Islam dengan lancar menyenandungkan lagu-lagu, bahkan nyanyian orang dewasa. Dan begitu asingnya anak-anak yang mengenal Agamanya, yang bisa membaca Al Qur'an dengan baik yang benar, yang mengetahui tentang Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berserta tuntunannya.

Mengenai senandung, sebenarnya perkara ini bukanlah sesuatu yang aneh karena jauh sebelumnya Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengabarkannya, yang artinya: "Akan ada di kalangan ummatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat musik." (HR: Bukhari dan Abu Daud)

Asy Syaikh Jamil Zainu berkata tentang Hadits ini: "Bahwasannya akan ada suatu kaum di kalangan Muslimin yang mereka meyakini bahwa zina, memakai sutera asli, minum khamar, dan musik itu halal, padahal haram." (Kaifa Nurabbi Auladana 47)

Mari kita renungkan didalam hati ini, apakah yang telah kita lakukan terhadap anak-anak, adik-adik, kemenakan, dan generasi muda Islam yang pembinaan dan pendidikannya berada dibawah tanggung jawab kita. Sudakah kita berupaya keras mendekatkan mereka dengan Syariat Islam? Adakah upaya kita menanamkan kecintaan anak terhadap Kitabulloh serta himbauan dan tuntunan untuk mengamalkannya? Ataukah kita hanya sekedar memberikan tawa gembira kepada mereka dengan mengadakan acara lomba senandung anak "Islam" atau lomba fashion show anak "Sholeh/ah"?

Jika kita ingin melihat sejarah umat Islam ini lebih dalam lagi, maka kita akan menengok generasi muda Islam terdahulu yaitu di zaman Salafus Sholeh (zaman para shohabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in). Sungguh alangkah indahnya di masa itu.

Memang sungguh sulit dan tidak bisa apabila generasi kita sekarang dibandingkan dengan mereka. Sungguh jauh sekali kita dibanding mereka, tapi seharusnya kita berusaha meneladani mereka sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan hal tersebut.

Generasi terbaik ummat ini telah memberikan teladan pada kita dalam masalah ini. Betapa tingginya semangat mereka dalam mengarahkan perbuatan anak-anak mereka agar selaras dengan Kitabullah. Kita bisa dapatkan para shahabat telah mengajarkan Al Qur'an sejak dini pada anak-anak mereka dan semua itu tidak lepas karena ittiba' mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya. Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: "… akan tetapi jadilah kalian orang-orang rabbani karena apa yang kalian ajarkan dari Al Kitab dan karena yang kalian pelajari darinya." (QS: Ali Imran: 79)

Dari Hadits Utsman radhiallahu 'anhu secara marfu' bahwa Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR: Bukhari dalam Shahih-nya nomor 5027)

Maka berikanlah perkara-perkara yang baik kepada mereka, ajarkan dan biasakanlah pada mereka sejak dini Kalamullah agar mereka terbiasa melantunkannya dan timbul kecintaan pada hati-hati mereka dengan memahamkan makna-maknanya.

Al Imam Al Hafidh As Suyuthi berkata: "Mengajarkan Al Qur'an pada anak-anak merupakan salah satu dari pokok-pokok Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya dan agar cahaya hikmah lebih dahulu menancap pada hati-hati mereka sebelum hawa nafsu dan sebelum hati-hati mereka dihitami (dipenuhi) oleh kekotoran maksiat dan kesesatan" (Manhajut Tarbiyatun Nabawiyyah lith Tifl 104)

Mengajarkan Al Qur'an bukan sekedar membaca lafadh-lafadhnya dan menghapalkannya, namun melalaikan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Seharusnya kita mengajarkan Al Qur'an dengan disertai keterangan yang mencukupi.

Salah satu sejarah yang bisa kita jadikan pelajaran bagi pendidikan anak Islam yang merupakan buah dari terasahnya kecerdasan dan kepekaan terhadap kandungan makna Al Qur'an adalah kisah pendidikan Mush'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqash.

Dia berkata kepada ayahnya, Sa'ad bin Abi Waqqash: "Wahai ayahku, bagaimana pendapat ayah tentang firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: "Yakni orang-orang yang lalai dalam shalat mereka." (QS: Al Ma'un: 6)

Mush'ab melanjutkan: "Siapa di antara kita yang tidak lalai dan tidak terlintas dalam benaknya perkara lain selain shalat sedikitpun?"

Maka sang ayah –Sa'ad bin Abi Waqqash– menjawab: "Bukan begitu, wahai anakku. Yang dimaksud lalai dalam firman Alloh tersebut adalah menyia-nyiakan waktunya." (Riwayat Abu Ya'la dalam Musnad-nya 2/63. Manhaj Tarbiyah lith Thifl. 108)

Demikian juga kisah Abu Sulaiman Dawud bin Nashr Ath Tha'i. Ketika ia berumur lima tahun ayahnya menyerahkannya pada seorang pengajar adab. Maka pengajar tersebut memulai dengan mengajarkan Al Qur'an. Ketika sampai pada surat Al Insan dan dia telah menghapalnya, suatu hari ibunya melihatnya sedang menghadap dinding memikirkan sesuatu sambil jarinya menunjuk-nunjuk. Maka ibunya berkata: "Bangkitlah wahai Dawud, bermainlah bersama anak- anak yang lain!" Dawud tidak menyahut perintah ibunya hingga ketika sang ibu mendekapnya, Dawud baru bereaksi, ia berkata: "Ada apa denganmu, wahai ibuku?"

Kata ibunya : "Di manakah pikiranmu, wahai anakku?"
"Bersama hamba-hamba Alloh," jawab Dawud.
"Di mana mereka?" Tanya sang ibu.
"Di Surga," jawab Dawud singkat.
Ibunya bertanya lagi : "Apa yang sedang mereka perbuat?"

Mendengar pertanyaan itu Dawud membacakan surat Al Insan ayat 13 sampai 21 yang mengabarkan kenikmatan Surga, yang artinya: "Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) mentari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buah-buahannya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan pada mereka bejana-bejana dari perak dan gelas-gelas yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik- baiknya. Di dalam Surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjabil. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air Surga yang dinamakan Salsabil. Dan mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat di sana (Surga) niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka (penghuni Surga) memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih." (QS: Al Insan: 13-21)

Subhanallah! Di usia mereka yang masih belia akal-akal mereka telah terasah untuk memikirkan ayat-ayat Alloh Subhanahu wa Ta'ala, men-tadabburi-nya. Fitrah yang Alloh Subhanahu wa Ta'ala berikan pada mereka terjaga bahkan terkuatkan dengannya. Bagaimanakah dengan anak-anak yang berada dibawah tanggung jawab kita?

Upayakanlah yang didengarkan anak-anak pertama kali adalah kalimat-kalimat Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan memahamkan mereka sehingga mereka terbiasa mendengar dan mengucapkannya, dengan begitu hati-hati mereka menjadi cinta terhadap Al Qur'an dan mereka tumbuh di atasnya. Membiasakan anak untuk menghapal Al Qur'an sejak dini juga merupakan suatu pendidikan yang baik. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta'ala mempermudah jalan bagi kita untuk mendidik generasi penerus Islam. Wallahu A'lam Bishshawwab.

 



Blog EntryPESAN UNTUK PENDIDIKAN ANAKFeb 7, '08 5:36 AM
for everyone

Sesungguhnya nikmat (yang diberikan) Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak terhitung dan diantara nikmat-nikmat yang sangat agung dan mulia adalah nikmat anak. Allah Ta'ala berfirman: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." (Al-Kahfi: 46). Nikmat yang sangat agung ini adalah merupakan satu amanah dan tanggung jawab bagi kedua orang tua dan akan ditanya tentang nikmat tersebut pada hari Kiamat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian (akan) ditanya tentang kepemimpinan-nya: Seorang imam adalah pemimpin dan dia (akan) ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia (akan) di tanya tentang kepemimpinannya." (Muttafaq 'Alaih).

Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: " Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." Ibnul Qayyim radhiyallah 'anhu  berkata:"Barangsiapa menelantarkan pendidikan anaknya dan  meninggalkan apa yang bermanfaat buat  mereka, maka dia telah merusak masa depan anak; kebanyakan  anak tidak bermoral  hanya karena bapak  mereka  tidak peduli terhadap pendidikan mereka , sehingga para bapak  tidak dapat  mengambil manfaat dari anak, dan  anak (pun) tidak akan memberikan manfaat kepada bapaknya ketika telah besar."

Kepada seluruh ayah, ibu dan pendidik (kami berikan) pesan dan nasehat yang singkat semoga Allah memberikan manfaat dengannya:

  • Landasan utama dalam pendidikan anak-anak adalah menanamkan nilai 'ubudiyah (peribadahan) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala  dalam hati mereka, serta memelihara dan menjaganya dalam diri mereka. Diantara nikmat-nikmat  Allah yang diberikan kepada kita adalah bahwa seorang anak dilahirkan diatas agama islam, agama fithrah. Maka hal itu tidaklah membutuhkan kecuali menjaga dan memeliharanya serta senantiasa membantu mereka agar tidak menyimpang dan tersesat.
  • Ayah dan ibu dianggap beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala  ketika mendidik, berinfak, menjaga, mengawasi, dan mengajari (anak-anaknya) bahkan sampai ketika membahagiakan me-reka dan bersenda gurau dengan mereka, apabila ayah dan ibu meng-harapkan yang demikian itu, maka mereka akan mendapat pahala. Memberikan nafkah kepada anak-anak adalah merupakan ibadah sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda:"Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infaqkan kepada hamba sahaya, satu dinar yang engkau sedekahkan kepa-da orang miskin dan satu dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu." (HR. Muslim).
  • Harus mengikhlaskan (niat) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala  dalam mendidik anak, jika seorang pendidik menginginkan dunia maka keikhlasannya telah rusak. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan mendidik anak adalah mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  • Do'a adalah ibadah. Para nabi dan rasul telah berdo'a untuk anak-anak dan isteri-isteri mereka:"Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami." (Al-Furqan: 74) Dan ketika Ibrahim berkata:"Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini negeri yang aman serta jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala." (Ibrahim: 35)Berapa banyak do'a-do'a dapat meringkaskan lamanya perjalanan tarbiyah? Pilihlah waktu-waktu dikabul-kannya do'a dan jauhilah penghalang-penghalangnya, rendahkanlah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memohonlah dihadapanNya agar Allah memberikan petunjuk kepada keturunanmu dan menjauhkan setan darinya.
  • Wajib bagi Anda mencari harta yang halal dan menjauhi yang syubhat (samar) serta janganlah (sampai) engkau terjatuh dalam keharaman. Sesungguhnya telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:"Setiap jasad yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih pantas baginya."Ayah dan ibu jangan mengira bahwa harta yang haram itu ada dalam riba, mencuri dan uang suap semata. Bahkan sampai ada dalam menyia-nyiakan waktu bekerja, dan mema-sukkan harta yang haram tanpa ada timbal baliknya. Maka kebanyakan para pegawai,  pengajar dan pekerja meremehkan pekerjaan  mereka dan terlambat dari waktu kerja beberapa detik. Demikian pula memakan harta manusia dengan bathil dan merampas hak-hak mereka. Pilihlah harta yang halal walaupun sedikit (jumlahnya) sesungguhnya di dalamnya ada berkah yang besar.
  • Teladan yang baik adalah merupakan (sarana) tarbiyah yang sangat penting. Maka bagaimana (mungkin) anakmu bersemangat melaksanakan shalat sedangkan dia melihatmu menyia-nyiakan shalat? Dan bagaimana (mungkin) anakmu men-jauhkan diri dari lagu-lagu dan lawakan sedangkan dia melihat kedua orang tuanya senantiasa mendengar-kannya?
  • Sabar adalah hal yang telah dilupakan oleh sebagian orang tua. Sabar adalah merupakan sebab-sebab terpenting dalam keberhasilan tarbiyah. Maka Anda wajib bersabar,  atas teriakan anak yang masih kecil dan jangan marah, bersabarlah ketika dia sakit dan berharap pahala dari Allah, saat menasehatinya dan jangan bosan, saat Anda menunggu anak agar dia keluar bersama Anda untuk shalat, dan saat engkau duduk di masjid setelah sholat ashar agar anak Anda menghafal (Al-Qur'an) bersama Anda. Dan bergembiralah sesungguhnya Anda ada dalam jalan jihad
  • Shalat, adalah kewajiban yang sangat agung dan inti yang kedua dari kewajiban agama didiklah anak Anda agar  tahu tentang pentingnya dan agungnya kedudukan sholat. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad: "Perintahkanlah anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan) shalat pada usia 10 tahun."Wahai ayah janganlah Anda menjadi bodoh, yang mampu menyayangi anaknya dari dinginnya (hawa) pada musim dingin tapi  tidak mampu membangunkan anaknya untuk mengerjakan shalat. Bahkan jadilah Anda diantara orang-orang yang berakal dan sayangilah anakmu dari api neraka  jahannam wal 'Iyadzu billah, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam  telah bersabda:"Barangsiapa mengerjakan shalat Fajar secara berjamaah maka dia ada dalam perlindungan Allah." (HR. Ibnu Majah).
  • Haruslah menjaga hak milik yang khusus dan bagian-bagian pribadi di antara anak-anak, serta bersikaplah adil terhadap mereka dalam pergaulan dan pemberian serta perhatian dalam pendidikan mereka.
  • Tumbuhkanlah dalam diri anak-anak Anda pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala , mencintaiNya dan mentauhid-kanNya, dan peringatkanlah mereka tentang kesalahan aqidah yang engkau lihat serta peringatkanlah mereka dari terjatuh kedalamnya. perintahkan yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar serta doronglah mereka untuk melakukan hal  tersebut, sesungguhnya hal itu menjadi penye-bab tetapnya mereka di atas agama.
  • Kita berada dalam satu zaman yang didalamnya telah tersebar fitnah dari segala sisi. Maka jadilah Anda sebagai orang yang membela nasib anak-anakmu. Hendaklah engkau mempunyai nasehat yang baik dalam memilihkan teman-teman mereka karena sesungguhnya seorang ter-gantung sahabatnya dan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda: "Seorang laki-laki diatas agama teman dekatnya maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat kepada siapa dia berteman dekat." (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad). Waspadalah jangan sampai Anda mengajak mereka ke tempat-tempat yang hanya membuang-buang waktu saja atau tempat-tempat yang dida-lamnya ada kemungkaran-kemungkaran. Jadilah Anda sebagai ayah, sahabat dan teman bagi mereka. Tumbuhkanlah sifat kejantanan dalam diri anak laki-lakimu dan serta sifat malu dan kesucian dalam diri anak perempuan-mu, dan tauladan (dalam hal) pakaian, nasehat dan persamaan serta janganlah Anda meremehkan keluar-nya anak-anak.

Semoga Allah mengumpulkan kita, mereka dan orang tua kita di Surga 'Adn. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi kita Muham-mad, keluaraganya, dan para saha-batnya semua. 

amin


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help